SELAMAT DATANG DI WEBSITE KAMI KEBUMEN24.COM - BERITA KEBUMEN TERKINI Satukan Perbedaan, Warga Kebumen Gelar Nonton Bareng Film Jejak Dua Ulama

Satukan Perbedaan, Warga Kebumen Gelar Nonton Bareng Film Jejak Dua Ulama



KEBUMEN, Kebumen24.com - Lembaga Seni dan Olah Raga(LSBO) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kebumen menggelar acara nonton bareng (Nobar) film jejak dua ulama. Kegiatan tersebut diharapkan kedua Organisasi Islam bisa selalu bersatu kompak dalam mendukung pemerintah membangun kemajuan Kabupaten Kebumen.

Pada pemutaran Film yang berlangsung di Gedung DPRD Kebumen Jumat malam 14 Februari 2020 itu, dihadiri Sekda Kebumen Ujang Sugiyono, Kapolres Kebumen AKBP Rudy Cahya Kurniawan, Dandim 0709 Kebumen Letkol Kav Muhamad Sarif Prawira Negara Matondang, Ketua PCNU Kebumen Dawamudin, Ketua Pimpinan Muhamdiyah Cabang Kebumen Abduh Hisyam, Kepala Diskominfo Kebumen Cokro Aminoto, serta para tokok dari berbagai lintas agam dan para mahasiswa.


Dalam kesempatan tersebut, Ketua Panitia Slamet Pramono mengatakan, pemutaran film ini bertujuan utnuk memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya generasi muda agar memahami arti sebuah perbedaan daan menjunjung tinggi persamaan. Dimana sebelumnya kedua organisasi islam terbesar seperti Nahdlatul Ulama dan Muammadiyah selalu dibenturkan dengan kepetingan yang lainnya.

Menurutnya, dengan acara nonton bareng ini banyak pelajaran yang berharga bagi masyarakat luas. Sehingga diharapakan saling memahami serta tidak mengotak ngotakkan masyarakat dengan organisasi keagamaan.

‘’Banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil melalui alur cerita kisah film ini. Semoga ini menginpirasi kita semua. Khususnya Generasi muda,’’ungkapnya.

 

Sementara itu, Sekda Kebumen Ahmad Ujang Sugiyono dalam sambutanya menyampaikan, selain menyambut baik atas terselenggaranya acara tersebut, pihaknya berharap, kegiatan ini dapat bermamfaat untuk mengenalkan kembali kepada sejarah. menurutnya, mempelajari sejarah itu sangatlah penting lantaran sejarah itu adalah pengalaman. terlebih film ini adalah tentang sejarah dua ulama besar negeri ini. Yakni Kh. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy'ari.

“’ Dua Ulama ini telah meletakkan dasar-dasar perjuangan Islam secara sistematis.Yang terwujud dalam dua organisasi besar yakni Muhammadiyah dan Nahdotul Ulama,’’ujarnya.

Untuk itu, Ujang berharap, kegiatan ini dapat menjadi inspirasi, motivasi dan koimtmen untuk saling menjaga persaudaraan, persatuan, menguatkan, sekaligus melengkapi, dan saling semangat berlomba lomba dalam kebaikan.


Hal senada juga di utarakan Ketua PCNU Kebumen Dawamudin dan Ketua Pimpinan Muhamdiyah Cabang Kebumen Abduh Hisyam. Keduanya mengatakan, film  jejak 2 ulama ini merupakan film fenomenal dan sarat pelajaran positif didalamnya. Film ini bukan tentang Muhammadiyah ataupun Nahdliyyin, melainkan mengambarkan tentang sosok dua ulama karismatik pendiri 2 sayap penjaga NKRI.

Lebih jauh pihaknya menambahkan, bahwa film ini di alur ceritanya mengenai kehidupan dan hubungan antara kyai Dahlan yang senantiasa memanggil Kyai Hasyim Ashari dengan sebutan adik dan begitu juga sebaliknya. Bagaimana film ini berupaya meyajikan suguhan 2 potret perjuangan 2 ulama ini, dengan kondisi dan tantangan dakwah yang memiliki karakteristik yang pelik namun sama -sama 1 tujuannya yakni mensyiarkan Agama Islam yang rahmatan lil alamin nan mencerahkan.

‘’ Dua tokoh dalam film, merupakan tokoh yang jelas kontribusinya kepada bangsa ini. Bahkan sebelum bangsa ini merdeka, beliau sudah mewarnai bangsa ini dengan karya mereka,”’ungkap H. Dawamudin dan Abduh Hisyam.

Dengan hadirnya film mereka berpesan kepada masyrakat luas khususnya generasi muda agar tidak abai terhadap sejarah bangsa ini. Umat islam memiliki kontribusi sejarah hingga merdeka nya NKRI hingga saat ini. KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asy’ari, merupakan dua tokoh representasi mainstream umat Islam Indonesia. Keduanya adalah pejuang moral dan pemandu spiritual umat dan bangsa ini. Peran yang dimainkan keduanya sungguh signifikan dalam meningkatkan kualitas umat dan bangsa yang saat itu hidup dalam penjajahan. (k24/arta)

Post a Comment

0 Comments